Monthly Archives: August 2008

Laskar Pelangi

Ada 2 kejadian lucu di weekend gw minggu lalu. Yang pertama gw sebut dengan tragedi-mo-nelp-si-kampret-malah-nyambung-ke-lutung. Kejadian diawali dengan maksud gw yang mo telp temen gw, buat janjian ke gereja. Sebut saja nama temen gw itu Alex (seperti biasa, nama disamarkan).

Tuut…tuut…(telp berdering, bukan telp kentut).

Suara-di-seberang-telp : halo.

Sigit Ganteng: Halo selamat sore, bisa bicara dengan Alex?

Suara-di-seberang-telp : hah?

Sigit Ganteng: Iya, Alexnya ada?

Suara-di-seberang-telp: Alex?

Sigit Ganteng: *mikir2 kok kayanya kenal suaranya*

Suara-di-seberang-telp: Lo mabok git?

Sigit Ganteng: Setan. Banday ya??Salah pencet nomor gw.

Banday Kasarung: buahuahuahuahuahua.

Gua malu dengan sukses. Continue reading

Advertisements

Mari Kita Berhenti Sejenak, Untuk Melihat Sudah Sejauh Apa Bangsa Ini Melangkah

Beberapa hari yang lalu saya melintasi salah satu jalan protokol di bilangan Jakarta Pusat, yang di antara kedua ruas jalan tersebut, ada sebuah taman dengan sebuah patung Jenderal Sudirman berdiri tegak, menghormat ke arah depan. Lantas, saya teringat sebuah scene dalam film Nagabonar Jadi 2, di mana si Nagabonar menyuruh patung Jend. Sudirman itu untuk menurunkan tangannya, sambil berkata, “Turunkan tanganmu, Jenderal! Mengapa kau menghormat terus?! Apa karena mereka semua itu menggunakan roda 4 ?! Bah! Tidak semua dari mereka pantas kau hormati!” Scene itu membuat siapa saja yang menonton bergetar. Betapa sosok seorang Nagabonar memberi contoh penghargaan yang luar biasa kepada seorang pahlawan. Moreover, satu bagian kalimat yang diucapin Nagabonar tersebut mengandung makna lebih dalam. “Tidak semua dari mereka pantas kau hormati.” Continue reading

It’s Over Now

Semalem gw nonton business art with Mario Teguh di O Channel. Ada satu quote beliau yang sangat super menurut gw.

Kalau anda mengingkan sesuatu, inginkan sesuatu yang membuat anda bekerja keras.

Terus dia bertanya dengan gaya khas nya yang super, “Berapa banyak orang yang bilang, kalau saya sudah kaya, saya akan nganggur, hidup santai. Lha? Sekarang kerjanya apa? Nganggur. Nah, tidak perlu kaya toh?”

Kata-kata ini lantas ngingetin gw buat ngambil salah satu keputusan penting dalam hidup gw, keputusan yang ga boleh diambil sembarangan, keputusan yang bakal menentukan arah hidup gw, keputusan penuh makna, yang bakal melibatkan hajat hidup orang banyak di sekitar gw, which is, apakah fans club gw harus ditutup…

Okeh. Bukan itu. 😀 Continue reading